Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar | Ilmu Bahasa Indonesia | Bahasa dan Sastra Indonesia | Kuliah Bahasa Indonesia


Fonologi, Ilmu yang Mempelajari Bunyi

Kalau kita mendengar orang berbicara, entah berpidato atau bercakap-cakap, maka kita akan mendengar runtunan bunyi bahasa yang terus menerus, kadang-kadang terdengar suara menaik dan menurun, kadang-kadang terdengar hentian sejenak atau hentian agak lama, kadang-kadang terdengar tekanan keras atau lembut, dan kadang-kadang terdengar pula suara pemanjangan dan suara biasa.
Read more…

Hakikat Bahasa: Bahasa Itu Dinamis

Bahasa adalah satu-satunya milik manusia yang tidak pernah lepas dari segala kegiatan dan gerak manusia sepanjang keberadaan manusia itu, sebagai makhluk yang berbudaya dan bermasyarakat. Tak ada kegiatan manusia yang tak disertai oleh bahasa. Bahkan dalam bermimpi pun manusia menggunakan bahasa.

Keterikatan dan keterkaitan bahasa dengan manusia menyebabkan bahasa memiliki sifat dinamis, sebagaimana manusia pemakainya. Perubahan bahasa itu terjadi pada semua tataran, baik fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, maupun leksikon. Read more…

Hakikat Bahasa: Bahasa Itu Universal

Selain bersifat unik, bahasa itu bersifat universal, artinya, ada ciri-ciri yang sama yang dimiliki oleh setiap bahasa yang ada di dunia ini. Ciri-ciri yang universal itu tentunya merupakan unsur bahasa yang paling umum, yang bisa dikaitkan dengan ciri-ciri atau sifat-sifat bahasa lain.
Read more…

Hakikat Bahasa: Bahasa Itu Unik

Unik artinya mempunyai ciri khas yang spesifik yang tidak dimiliki oleh yang lain. Bahasa itu unik, maksudnya, setiap bahasa mempunyai ciri khas sendiri yang tidak dimiliki oleh bahasa lainnya. Ciri khas ini bisa menyangkut sistem bunyi, sistem pembentukan kata, sistem pembentukan kalimat atau sistem-sistem lainnya.
Read more…

Hakikat Bahasa: Bahasa Itu Produktif

Kata produktif adalah bentuk ajektif dari kata benda produksi. Arti produktif adalah “banyak hasilnya”, atau lebih tepat “terus menerus menghasilkan”. Bahasa itu produktif, maksudnya, meskipun unsur-unsur bahasa itu terbatas, dapat dibuat satuan-satuan bahasa yang jumlahnya tidak terbatas, meski secara relatif, sesuai dengan sistem yang berlaku dalam bahasa itu.
Read more…

Hakikat Bahasa: Bahasa Itu Konvensional

Meskipun hubungan antara lambang bunyi dengan yang dilambangkannya bersifat arbitrer, penggunaan lambang tersebut untuk suatu konsep tertentu bersifat konvensional. Artinya, semua anggota masyarakat bahasa itu mematuhi konvensi bahwa suatu lambang digunakan untuk mewakili konsep yang dilambangkannya.
Read more…

Hakikat Bahasa: Bahasa Itu Arbitrer

Kata arbitrer bisa diartikan ’sewenang-wenang, berubah-ubah, tidak tetap, manasuka’. Yang dimaksud dengan istilah arbitrer itu adalah tidak adanya hubungan wajib antara lambang bahasa (yang berwujud bunyi itu) dengan konsep atau pengertian yang dimaksud oleh lambang tersebut. Umpamanya, antara [kuda] dengan yang dilambangkannya, yaitu “sejenis binatang berkaki empat yang biasa dikendarai”. Kita tidak dapat menjelaskan mengapa binatang tersebut dilambangkan dengan bunyi [kuda], bukan [aduk] atau [akud].
Read more…

Hakikat Bahasa: Bahasa itu Bermakna

Dari tulisan sebelumnya sudah dibicarakan bahwa bahasa itu adalah sistem lambang yang berwujud bunyi, atau bunyi ujar. Sebagai lambang tentu ada yang dilambangkan. Maka, yang dilambangkan itu adalah suatu pengertian, konsep, ide atau suatu pikiran yang ingin disampaikan dalam wujud bunyi. Oleh karena lambang-lambang itu mengacu pada suatu konsep, ide atau pikiran, dapat dikatakan bahwa bahasa itu mempunyai makna.

Dalam studi semantik ada teori makna yang mengatakan bahwa makna itu sama dengan bendanya, tetapi ada juga yang mengatakan bahwa makna itu adalah konsepnya, sebab tidak semua lambang bahasa yang berwujud bunyi itu mempunyai hubungan dengan benda-benda konkret di alam nyata. Lambang bunyi [kuda] dan [rumah] punya benda konkret di alam nyata; tetapi lambang bunyi [agama] dan [adil] tidak punya benda konkret di alam nyata ini (tidak punya referen atau rujukan).
Read more…

Hakikat Bahasa: Bahasa Adalah Bunyi

Kata bunyi sering sukar dibedakan dengan suara, sudah biasa kita dengar dalam kehidupan sehari-hari. Secara teknis, menurut Kridalaksana, bunyi adalah kesan pada pusat saraf sebagai akibat dari getaran gendang telinga yang bereaksi karena perubahan-perubahan dalam tekanan udara. Bunyi itu bisa bersumber pada gesekan atau benturan benda-benda, alat suara pada binatang dan manusia.

Yang dimaksud bunyi pada bahasa atau yang termasuk lambang bahasa adalah bunyi-bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Jadi, bunyi yang bukan dihasilkan oleh alat ucap manusia tidak termasuk bunyi bahasa. Namun, tidak semua yang dihasilkan oleh alat ucap manusia termasuk bunyi bahasa, seperti teriakan, bersin, batuk, dan bunyi orokan. Semua itu dihasilkan oleh alat ucap manusia tetapi tidak termasuk ke dalam sistem bunyi bahasa.
Read more…

Hakikat Bahasa: Bahasa sebagai Lambang

Kata lambang sering dipadankan dengan kata simbol dengan pengertian yang sama. Lambang dengan segala seluk-beluknya dikaji orang dalam kegiatan ilmiah dalam bidang kajian yang disebut ilmu semiotika atau semiologi, yaitu ilmu yang mempelajari tanda-tanda yang ada dalam kehidupan manusia, termasuk bahasa. Dalam semiotika dibedakan adanya beberapa jenis tanda, yaitu antara lain tanda (sign), lambang (simbol), sinyal (signal), gejala (symptom), gerak isyarat (gesture), kode, indeks, dan ikon.

Pengertian dari beberapa jenis tanda tadi mungkin saling tumpang tindih. Bahasa sebagai lambang harus dipahami bahwa bahasa adalah suatu sistem lambang dalam wujud bunyi-bahasa, bukan dalam wujud yang lain.



Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar | Ilmu Bahasa Indonesia | Bahasa dan Sastra Indonesia | Kuliah Bahasa Indonesia